Raja Gombang Malin Dewa berputra seorang bernama Malin Deman. Pada
suatu hari Malin Deman bermimpi disuruh pergi ke hulu sungai Bandar
Muar. Di situ ia tinggal bersama Nenek Kabayan tua. Tidak jauh dari
rumah Nenek Kabayan ada sebuah tasik (danau kecil di,kaki gunung atau
kaki bukit) tempat ketujuh, putri kayangan bersiram (mandi-mandi).
Pada suatu hari Putri Bungsu mendesak kakak-kakaknya supaya mereka
turun ke Tasik untuk mandi-mandi. Kakaknya melarang sebab bukan waktunya
untuk mandi-mandi dan ayah mereka akan marah. Tetapi Putri Bungsu di
kayangan mendesak juga. Dikatakannya bahwa kepalanya pusing dan hanya
akan sembuh bila mandi di tasik dekat pondok Nenek Kabayan. Karena
alasan itu maka berangkatlah mereka ke bumi menuju tasik tersebut
menggunakan baju songsong barat (selendang untuk terbang).
Sedang asyik mereka mandi, secara diam-diam Malin Deman mengintai di
balik sebatang pohon, dan dengan ranting kayu diambilnya satu di antara
baju songsong barat itu.
Setelah puas berkecimpung mandi di tasik, naiklah putri-putri itu ke
darat, pinggir tasik, mengenakan pakaian masing-masing. Ternyata baju
terbang kepunyaan Putri Bungsu tidak ada. Dengan cemas mereka mencari ke
sana kemari, tapi tetap tidak dapat ditemukan. Karena hari sudah senja
terbang-pulanglah saudara-saudaranya dan tinggallah Putri Bungsu sendiri
di pinggir tasik, menangis ketakutan. Kesempatan itu dipergunakan Malin
Deman untuk memikat hati sang putri yang cantik. Dibujuknya Putri
Bungsu untuk pulang bersama-sama. Karena tidak ada pilihan lain bagi
Putri Bungsu, maka ajakan Malin Deman itu diterimanya dan ia mengikuti
Malin Deman pulang ke Bandar Muar. Di sana mereka dinikahkan secara
resmi dan terjalinlah rasa cinta kasih antara keduanya.
Setelah setahun menikah, mereka mendapatkan seorang putra yang mereka
beri nama Malin Dewana. Kelahiran Malin Dewana mereka rasakan sangat
membahagiakan. Tetapi
kemudian terjadi perubahan pada Malin Deman. Ia tidak menampakkan kasih
sayang lagi kepada istrinya, Putri Bungsu. Tinggallah Putri Bungsu
berhari-hari dalam kesedihan.
Suatu hari ketika ia melihat-lihat barang dalam lemari pakaian,
terlihatlah olehnya baju songsong barat yang hilang beberapa tahun yang
lampau. Segera didukungnya Malin Dewana, dikenakannya selendang terbang
dan terbanglah ia pulang ke negeri ayahnya di atas kayangan.
Dicarinya Putri Bungsu ke hulu sungai Bandar Muar kalau-kalau ada di
pondok Nenek Kabayan, Nenek Kabayan mengatakan bahwa sejak Malin Deman
tidak pernah pulang putri-putri kayangan mandi di tasik dekat pondoknya.
Malin Deman menyesal atas kelengahannya sehingga menyebabkan istrinya
pulang ke kayangan.
Melihat kesedihan Malin Deman, akhirnya Nenek Kabayan menasihatkan
supaya Malin Deman minta pertolongan kepada Putri Terus Mata yang
mempunyai alat terbang. Putri Terus Mata mau meminjamkan alat terbang
kepada Malin Deman dengan syarat supaya Malin Deman mau menikah dengan
dia setelah pulang dari kayangan.
Setelah sampai di kayangan Malin Deman bertambah gusar, karena
ternyata Putri Bungsu akan dinikahkan dengan Mambang Molek. Dicarinya
upaya agar dapat membinasakan Mambang Molek. Dalam peristiwa adu ayam
Malin Deman dapat membinasakan Mambang Molek yang sebelumnya telah
menghina dia. Para saksi melihat bahwa Molek-lah yang sebenamya
mendahului kerusuhan itu.
Malin Deman ditangkap dan dihadapkan kepada raja, untuk dihukum.
Dalam keadaan terbelenggu di rumah raja, Malin Deman berkesempatan
berjumpa dengan istrinya, yang sebenarnya tetap setia kepadanya. Putri
Bungsu dengan gembira segera memberitahukan kepada ayahnya bahwa
pesakitan adalah suaminya sendiri, ayah Malin Dewana. Karena memang
bukan dia yang bersalah, maka Malin Deman dibebaskan dari hukuman. Untuk
menyambut menantunya itu, ayah Putri Bungsu mengadakan perayaan,
meresmikan dan merestui pernikahan Putri Bungsu dengan Malin Deman.
Sabtu, 25 Juni 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar